Tampilkan postingan dengan label E - learning. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E - learning. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 November 2011

DESIGN GRAFIS




Definisi Desain Grafis
adalah salah satu bentuk seni lukis (gambar) terapan yang memberikan kebebasan kepada sang desainer (perancang) untuk memilih, menciptakan, atau mengatur elemen rupa seperti ilustrasi, foto, tulisan, dan garis di atas suatu permukaan dengan tujuan untuk diproduksi dan dikomunikasikan sebagai sebuah pesan. Gambar maupun tanda yang digunakan bisa berupa tipografi atau media lainnya seperti gambar atau fotografi. Desain grafis umumnya diterapkan dalam dunia periklanan, packaging, perfilman, dan lain-lain.
Ada beberapa tokoh menyatakan pendapatnya tentang desain grafis yang saya ambil dari situs
Menurut Suyanto desain grafis didefinisikan sebagai ” aplikasi dari keterampilan seni dan komunikasi untuk kebutuhan bisnis dan industri“. Aplikasi-aplikasi ini dapat meliputi periklanan dan penjualan produk, menciptakan identitas visual untuk institusi, produk dan perusahaan, dan lingkungan grafis, desain informasi, dan secara visual menyempurnakan pesan dalam publikasi.
Sedangkan Jessica Helfand dalam situs http://www.aiga.com/ mendefinisikan desain grafis sebagai kombinasi kompleks kata-kata dan gambar, angka-angka dan grafik, foto-foto dan ilustrasi yang membutuhkan pemikiran khusus dari seorang individu yang bisa menggabungkan elemen-eleman ini, sehingga mereka dapat menghasilkan sesuatu yang khusus, sangat berguna, mengejutkan atau subversif atau sesuatu yang mudah diingat.
Menurut Danton Sihombing desain grafis mempekerjakan berbagai elemen seperti marka, simbol, uraian verbal yang divisualisasikan lewat tipografi dan gambar baik dengan teknik fotografi ataupun ilustrasi. Elemen-elemen tersebut diterapkan dalam dua fungsi, sebagai perangkat visual dan perangkat komunikasi.
Menurut Michael Kroeger visual communication (komunikasi visual) adalah latihan teori dan konsep-konsep melalui terma-terma visual dengan menggunakan warna, bentuk, garis dan penjajaran (juxtaposition).
Warren dalam Suyanto memaknai desain grafis sebagai suatu terjemahan dari ide dan tempat ke dalam beberapa jenis urutan yang struktural dan visual.
Sedangkan Blanchard mendefinisikan desain grafis sebagai suatu seni komunikatif yang berhubungan dengan industri, seni dan proses dalam menghasilkan gambaran visual pada segala permukaan
Kategori Desain Grafis
Secara garis besar, desain grafis dibedakan menjadi beberapa kategori:
1. Printing (Percetakan) yang memuat desain buku, majalah, poster, booklet, leaflet, flyer, pamflet, periklanan, dan publikasi lain yang sejenis.
2. Web Desain: desain untuk halaman web.
3. Film termasuk CD, DVD, CD multimedia untuk promosi.
4. Identifikasi (Logo), EGD (Environmental Graphic Design) : merupakan desain profesional yang mencakup desain grafis, desain arsitek, desain industri, dan arsitek taman.
5. Desain Produk, Pemaketan dan sejenisnya.
Program Pengolah Grafis
Oleh karena desain grafis dibagi menjadi beberapa kategori maka sarana untuk mengolah pun berbeda-beda, bergantung pada kebutuhan dan tujuan pembuatan karya.
1. Aplikasi Pengolah Vektor/Garis
Program yang termasuk dalam kelompok ini dapat digunakan untuk membuat gambar dalam bentuk vektor/garis sehingga sering disebut sebagai Illustrator Program. Seluruh objek yang dihasilkan berupa kombinasi beberapa garis, baik berupa garis lurus maupun lengkung. Aplikasi yang termasuk dalam kelompok ini adalah:
- Adobe Illustrator
- Beneba Canvas
- CorelDraw
- Macromedia Freehand
- Metacreations Expression
- Micrografx Designer
2. Aplikasi Pengolah Pixel/Gambar
Program yang termasuk dalam kelompok ini dapat dimanfaatkan untuk mengolah gambar/manipulasi foto (photo retouching). Semu objek yang diolah dalam progam-program tersebut dianggap sebagai kombinasi beberapa titik/pixel yang memiliki kerapatan dan warna tertentu, misalnya, foto. Gambar dalam foto terbentuk dari beberapa kumpulan pixel yang memiliki kerapatan dan warna tertentu. Meskipun begitu, program yang termasuk dalam kelompok ini dapat juga mengolah teks dan garis, akan tetapi dianggapa sebagai kumpulan pixel. Objek yang diimpor dari program pengolah vektor/garis, setelah diolah dengan program pengolah pixel/titik secara otomatis akan dikonversikan menjadi bentuk pixel/titik.
Yang termasuk dalam aplikasi ini adalah:
- Adobe Photoshop
- Corel Photo Paint
- Macromedia Xres
- Metacreations Painter
- Metacreations Live Picture
- Micrografx Picture Publisher
- Microsoft Photo Editor
- QFX
- Wright Image

Rabu, 12 Oktober 2011

PURA BESAKIH SEBAGAI PANGENTEG JAGAD

WACANA IDA PANDITA NABE
SRI BAGAWAN DWIJA WARSA NAWA SANDHI:

PURA BESAKIH SEBAGAI PANGENTEG JAGAD
Oleh Redaksi Newsletter Wahana Brahma Widya

Jalan Mayor Metra 71 Singaraja, Bali
brahmawidya.googlepages.com


Trihita Karana adalah suatu pedoman hidup yang didasarkan kepada keharmonisan hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dan sesamanya, serta manusia dan lingkungannya agar tercapai kehidupan sejahtera lahir dan batin. Konsep yang kini menjiwa dalam tatanan masyarakat Bali ini dicetuskan kali pertamanya oleh Mp Kuturan pada abad kesebelas saat beliau menjabat sebagai pendeta kerajaan (purohita) Bali Aga yang saat itu diperintah oleh Warmadewa. Sumber-sumber sastra mengenai Trihita Karana dapat dijumpai dalam karya-karya Mpu Kuturan di antaranya Lontar Tutur Kuturan, Lontar Kusuma Dewa, dan Lontar Dewa Tattwa. Semua lontar tersebut ditulis oleh Mpu Kuturan pada saat beliau menjabat sebagai purohita.
Ida Pandita Sri Bhagawan Dwija, seorang pendeta terkemuka di Buleleng menyatakan bahwa sentral dari Trihita Karana sebenarnya adalah manusia, karena manusia memiliki kemampuan tri pramana (sabda, bayu, idhep) untuk memegang peranan penting dalam menjaga kelestarian dan keharmonisan antarsesama dan lingkungannya. “Jadi di sini sentralnya adalah manusia. Apabila hubungan manusia dengan Tuhan terjalin dengan baik dan harmonis, apabila hubungan manusia dengan manusia terjalin dengan harmonis, dan hubungan antara manusia dengan alam baik dan harmonis, maka terjaminlah kesejahteraan dan kebaikan kehidupan manusia itu sendiri,” jelas Ida Pandita ketika diwawancarai di kediaman beliau di Griya Taman Sari, Banyuasri.
Pengembangan pemikiran dari Mpu Kuturan mengenai Trihita Karana dapat kita baca dari kesimpulan beliau mengenai Trimurti, Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasiNya sebagai Brahma, Wisnu, dan Siva. Dari Trimurti inilah berkembang adanya trikahyangan yang dilangsir oleh beliau di setiap desa pakraman ada Pura Desa, Pura Puseh, dan Pura Dalem. Kemudian dari sini pula berkembang Trihita karana. Wujud parahyangan dalam Trimurti (Trikahyangan) adalah hubungan manusia dengan Tuhan itu diwujudkan dalam adanya Pura Dalem, yaitu hubungan manusia dengan Sang Hyang Widhi dalam manifestasiNya sebagai Dewi Durga atau sakti Siva. Karena Siva dalam Agama Hindu di Bali itu adalah Tuhan, dengan kata lain di Bali adalah penganut Hindu dari sekte Siva Siddhanta, maka dalam pemahaman Siva Siddhanta, Tuhan itu adalah Siva. Maka, sakti dari Siva berwujud sebagai devi Durga yang distanakan di Pura Dalem. Hubungan manusia dengan Tuhan terwujud pada Pura Dalem. Kedua, hubungan manusia sesama manusia terwujud pada stana Bhattara Brahma di Pura Desa. Pura Desa adalah pura milik desa, di mana di dalam kegiatan pura terjadi interaksi selain kepada Sang Hyang Widhi juga interaksi kepada sesama krama desa. Jadi di sini perwujudan hubungan antara manusia dengan manusia. Kemudian, hubungan manusia dengan alam atau palemahan itu terwujud dalam Pura Puseh, stana Bhattara Wisnu oleh karena Wisnu adalah dewa yang memberikan kehidupan kepada umat manusia dan salah satu sumber kehidupan yang terpenting adalah air. Oleh karena itulah Pura Puseh disebut sebagai manifestasi dari konsep Trihita Karana dalam unsur palemahan.

Berbicara mengenai konsep Trihita karana, utamanya zaman sekarang, berarti berbicara mengenai relevansi. Trihita karana memang merupakan sebuah konsep yang luhur yang diteruskan oleh leluhur kita di masa lalu, untuk membangun masyarakat sejahtera dalam kehidupan sekala maupun niskala. Namun zaman sekarang, konsep Trihita Karana telah menyimpang dari segi pelaksanaannya. Kita semua mengetahui kosep yang berpedoman kepada keharmonisan manusia dengan alam, sesama, dan Tuhan itu, namun dewasa ini, masyarakat sepertinya baru mengenal hanya sebatas teori saja. Bagaimana penerapannya? Katakanlah belum sempurna. Jangankan peraturan tidak membuang sampah ke sungai sebagai wujud keharmonisan manusia dengan alamnya, dalam mengadakan upacara yadnya pun kita sering bertengkar.
“Konsep ini sangat relevan dan berlanjut terus. Bahkan tidak hanya relevan di Bali saja, tetapi juga di Nusantara bahkan di seluruh dunia, dan ini applicable sepanjang masa, karena memang itu adalah inti-inti yang diambil dari Rgveda oleh Ida Mpu Kuturan,” tegas Ida Pandita. Konsep ini sebenarnya telah ada dalam Rgveda, hanya saja di Rgveda tidak jelas disebutkan kalimat-kalimat Trihita karana, tetapi Mpu Kuturanlah yang pertama kali mencetuskan istilah Trihita karana itu yang berintisari dari Veda. Jadi kita mengetahui bahwa Veda itu mengandung kebenaran yang hakiki, kebenaran yang mutak. Oleh karena itu, apa yang ditulis dalam ayat-ayat Veda berlaku untuk umat manusia di seluruh dunia dan merupakan suatu kebenaran yang tidak bisa dibantah.
Beralih ke masalah Trihita Karana dalam kaitannya dengan kasus Pura Besakih yang kabarnya akan disaingkan dengan lapangan golf. Bagaimana dampak pembangunan lapangan golf tersebut (jika seandainya jadi) dengan Pura Besakih? “Besakih itu yang merupakan Pura Pangenteg Jagad, merupakan pura induk yang sangat sakral,” demikian jawaban Ida Pandita. Beliau juga menuturkan perihal sejarah Gunung Agung yang dikaitkan dengan keberadaan Pura Besakih sebagai pura Pangenteg Jagad.
Keberadaan Pura Besakih tidak lepas dari Gunung Agung sebagai gunung tertinggi di Pulau Bali. Ida Pandita menyatakan bahwa Gunung Agung  memiliki sejarah dan mitologi tersendiri yang menyatakan kesuciannya. Sebagai contoh ditemukan dalam Babad Pasek dan Bendesa, bahwa Gunung Agung pada hakikatnya adalah saudara dari Gunung Mahameru di Jambudwipa (India), bersama-sama dengan Gunung Rinjani, Gunung Batur, dan Gunung Semeru.
“Untuk itu kita mengambil sumber dari Babad Pasek dan Bendesa, di mana pendahuluan Babad Pasek dan Bendesa menceritakan keadaaan Bali yang pada awalnya hanya mempunyai gunung yaitu di timur Gunung Lempuyang, di selatan Gunung Andakasa, di barat Gunung Watukaru, dan di utara Gunung Mangu dan Gunung Bratan,” tutur Ida Pandita. Oleh karena hanya mempunyai gunung seperti itu, maka Bali menjadi goncang. Bhattara Pasupati (dalam hal ini sebagai wujud Sang Hyang Widhi) berkeinginan agar Bali ini tidak goncang. Maka, bagian gunung Mahameru dibawa ke Bali, di mana Bhattara Badhawang Nala diperintahkan untuk bertahan di pangkal gunung, sedangkan Naga Anantabhoga dan Wasuki menjadi tali pengikat gunung itu. Naga Taksaka yang menerbangkan puncak gunung Mahameru kemudian diturunkan di Bali pada Kamis Mrakih, sasih Kadasa, bulan mati, rah 1, tenggek 1, tahun Saka 11 atau tahun 87 sebelum masehi. Kemudian setelah Mahameru didudukkan di tengah-tengah pulau Bali sebagai gunung Agung atau Toh Langkir, maka pada hari Selasa Kliwon wuku Kulantir sasih Kalima pada bulan purnama tahun saka 31, atau 20 tahun setelah distanakan, Gunung Agung Meletus. Dari letusannya itu terciptalah Gunung Lebah atau Gunung Batur. Jadi, dalam mitologi ini, Gunung Agung melahirkan gunung Batur. Ini disebut di dalam prasasti-prasasti lama bahwa Gunung Agung adalah Purusa, Gunung Lebah (Gunung Batur) adalha Pradhana. Sehingga hukum alam yang dinamakan Rwa Bhinneda terwujud dalam kedua gunung itu.  
Oleh karena itu pula Sang Hyang Pasupati bersabda bahwa Mahameru, Gunung Agung, dan Gunung Ulun Danu, atau Gunung Lebah itu adalah bersaudara. Sebelumnya perlu dijelaskan lagi bahwa Gunung Mahameru itu tidak hanya menciptakan Gunung Agung tetapi juga Gunung Semeru dan Gunung Rinjani. Oleh karena itu sampai sekarang pemeluk Hindu di Bali sangat yakin bahwa Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani itu bersaudara.Dengan demikian maka di gunung-gunung ini pun diyakini berstana Sang Hyang Pasupati dengan Putra-Putra Beliau yaitu Mahadewa (Hyang Putrajaya, red.), Hyang Gnijaya, kemudian Dewi Danu.
Sekaligus juga karena di Gunung Agung dibangun Pura Besakih, maka Pura Besakih itu yang merupakan Pura Pangenteg Jagad, merupakan pura induk yang sangat sakral.
 Mengenai pembangunan lapangan golf di Besakih, Ida pandita menyatakan bahwa ada beberapa syarat pembangunan di sekitar areal pura agar tidak mengganggu kesucian pura bersangkutan. Beliau menjelaskan bahwa PHDI Pusat pada tahun 1959 sudah mengeluarkan Bhisama bahwa kawasan suci hendaknya dilindungi. Perlindungan itu antara lain dengan jarak, sehingga waktu itu timbul istilah jarak dari pura yang kita sakralkan ke tempat-tempat hunian, perumahan penduduk, apalagi tempat-tempat lain (hotel, dsb) yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan kegiatan keagamaan hendaknya mengambil jarak dari pura bersangkutan. Jarak itu tergantung dari besar-kecilnya pura. “Ada jarak yang dinamakan apanimpug, apaneleng, dan apangambuan,” papar Ida Pandita. Apanimpug adalah jarak yang dapat dicapai hasil dari lemparan batu sebesar genggaman tangan dari laki-laki dewasa. Kemudian apangambuan (ambu) artinya mencium. Jadi tidak boleh ada kegiatan di luar keagamaan yang baunya sampai tercium ke pura itu, seperti kandang babi. Tidak boleh bau kotoran babi itu sampai tercium ke pura. Ini tentu jaraknya relatif. Apabila pura itu berada di puncak bukit, maka dengan sendirinya bau itu akan terbawa oleh angin. Berapa jaraknya ini tidak ditentukan dalam meter. Yang ketiga, jarak yang disebut apaneleng. Apaneleng ini artinya apabila kita melihat sesuatu sampai kabur, kita tidak bisa lagi melihat pada jarak tertentu yang tidak terhalang oleh tembok atau pohon-pohonan. Demikian pula dalam hubungannnya dengan tempat-tempat suci, maka dalam jarak apaneleng tidak boleh ada kegiatan-kegiatan yang tidak berhubungan dengan keagamaan.
“Kembali kepada pertanyaan bahwa pembangunan lapangan golf di areal Besakih apakah itu tidak mengganggu jarak apaneleng?” ujar Ida Pandita, “Keberadaan lapangan golf mungkin lolos dari satuan apangambuan karena lapangan golf tidak berbau. Kalau misalnya apanimpug, mungkin lolos, artinya tidak mungkin orang bisa melempar batu sejauh satu kilometer (misalnya. red), tapi kalau apaneleng, karena jarak apaneleng itu pada lapangan yang terbuka bisa mencapai tiga, empat, atau lima kilometer. Apabila ini dilanggar, maka nilai sakral dari pura itu akan tercemar.” Kemudian yang penting adalah pengaruhnya kepada umat Hindu di Bali. Mereka akan merasa pura yang besar itu akan tercemar oleh kegiatan lapangan golf itu.
Pura Besakih adalah pura yang sangat disucikan oleh umat Hindu. Pembangunan di areal pura, terutama yang tidak berkaitan dengan kegiatan keagamaan dapat mendatangkan ketidaksucian bagi pura tersebut. Sebuah pura memancarkan vibrasi kesucian dan keharmonisan yang idcari banyak orang. Pura adalah sentral spiritual di mana dengan kehadiran pura, maka masyarakat yang berdiam di wilayah tersebut akan merasakan suatu keharmonisan. Apabila keharmonisan itu diganggu, muncullah berbagai masalah, baik sekala maupun niskala. Pembangunan lapangan golf di Besakih hendaknya memerhatikan aspek keselarasan dan kesucian. Jangan sampai daerah suci tersebut tercemar dengan kehadiran pembangunan itu. Proyek tersebut hendaknya dipindahkan ke daerah lain yang memerlukan pengembangan.




Rumus Cepat Matematika untuk Anak dan Remaja: Cara Menemukan dan Memanfaatkan Rumus Cepat

Langkah pertama. Pemahaman masalah. Kita harus benar-benar memahami masalah yang kita hadapi. Apa yang ingin kita dapatkan? Apa saja yang tidak kita ketahui? Apa saja data yang tersedia? Kondisi-kondisi apa yang dipersyaratkan? 
Contoh soal:
  1. Hitunglah 12 x 13 = …
 Sepertinya, masalah ini sudah jelas. Memang masalah ini sudah jelas bagi anak SMA yang akan SPMB dan UMPTN. Tetapi jika kita akan mengajarkan kepada anak usia TK atau awal SD, banyak hal yang harus kita pertimbangkan. Apakah anak kita sudah paham bahwa 12 adalah dua belas bukan 1 + 2? Apakah anak kita sudah paham maksud operasi perkalian? Apakah anak kita sudah berminat mempelajari masalah itu? 
Di APIQ, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi keharusan sebelum melakukan pembelajaran. Kita perlu memahami materi matematika juga pelajar matematika kita. Saya yakin suksesnya kursus matematika Kumon dan Sempoa berkat pemahaman hal ini. (Mungkin Jarimatika dan Sakamoto juga). 
Langkah kedua. Susun rencana. Temukan hubungan antara masalah dengan data atau sebaliknya. Apakah Anda dapat menemukan hubungan yang jelas antara keduanya? Perhatikan data, perhatikan pertanyaan. Apakah Anda pernah menemukan masalah yang mirip sebelumnya? 
Bagi anak SMA, 12 x 13 = ….sudah sering ia lihat. Kita langsung dapat mengerjakan soal itu. Kalikan seperti biasa kita mengalikan. Adakah cara lain? Mengapa tidak mencoba menemukan alternatif?  
Bagi anak-anak kecil, apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 2 digit? Apakah ia sudah mengenal perkalian bilangan 2 digit dengan 1 digit? Dapatkah kita mengajarkannya secara bertahap? 
Langkah ketiga. Laksanakan rencana. Periksa tahap demi tahap. Apakah setiap tahapnya benar? Dapatkah Anda membuktikan kebenaran itu? Adakah tahap-tahap ini dapat dilihat dengan mudah? 
Bagi anak SMA, 12 x 13 =… biasa dihitung dengan menulis bersusun ke bawah:        
  12   
  13x    
  36  
120+  
156 
Apakah Anda yakin setiap langkah di atas adalah benar? Mengapa? 
Bagi anak TK atau awal SD, bergantung kemampuan siswa. Jika anak sudah mengenal perkalian 2 digit kali 2 digit dapat dikerjakan dengan cara di atas. Tetapi bila anak baru mengenal perkalian 2 digit kali satu digit, kita dapat berangkat dari sini. 
12 x 13 =…
12 x (10 + 3) =…
(12 x 10) + (12 x 3) =… 
Awas hati-hati! Jangan Anda suruh anak Anda melakukan perhitungan di atas! Perhitungan di atas hanya untuk kita, orang dewasa. Anak-anak cukup Anda minta untuk menghitung 
12 x 10 = … 
Yakinkan bahwa perkalian dengan 10 adalah mudah. Hanya menambahkan 0 di belakangnya. Jadi 12 ditambahkan angka 0 di belakangnya.12 x 10 = 120.
Cobalah, anak Anda akan menyukainya. 
Kemudian minta anak Anda menghitung 
12 x 3 = 36 
Mestinya anak Anda sudah dapat mengalikan 12 dengan 3. Jika belum, Anda dapat melatihnya sekarang. Di APIQ, kami memainkan Onde Milenium untuk mengajarkan konsep perkalian semacam ini. Anak-anak sangat menyukai Onde Milenium. 
Setelah itu minta anak menjumlahkan 120 + 36 = …. 
Kita peroleh 120 + 36 = 156.
Ini adalah jawaban akhir yang diinginkan. Lakukan latihan dengan beberapa angka yang berbeda. Tetap jaga suasana ceria dalam belajar. Setelah anak lancar dengan cara di atas, perkenalkan cara perkalian bersusun ke bawah seperti anak SMA. Anak-anak Anda akan menyukainya. 
Yang menarik dari metode Polya adalah masih ada langkah keempat. Meski pun kita sudah memperoleh solusi pada langkah ketiga. Menurut saya, yang terpeting adalah langkah keempat. Langkah keempat inilah yang menghasilkan banyak rumus-rumus cepat matematika untuk UN, SPMB, dan UMPTN. Langkah keempat juga sangat penting bagi pembelajaran anak-anak kecil. 
Langkah keempat. Perhatikan kembali seluruhnya. Bagaimana Anda dapat memperoleh jawaban tersebut? Apakah Anda dapat menguji jawaban tersebut? Dapatkah Anda menguji argumen? Dapatkah Anda memperoleh hasil dengan cara yang berbeda? Dapatkah Anda melihat hanya sekilas? Dapatkah Anda menggunakan cara atau hasil ini untuk masalah lain? 
Baik, untuk contoh 12 x 13 = … dapatkah kita mendapatkan solusi degan cara berbeda? 
Tambahkan 12 + 3 = 15 kemudian kalikan 2 x 3 = 6
Kita peroleh 156.  (Selesai) 
Contoh lain: 12 x 14 = …. Tambahkan 12 + 4 = 16 kemudian kalikan 2 x 4 = 8
Kita peroleh 168. (Selesai) 
Contoh lain: 11 x 15 = … Tambahkan 11 + 5 = 16 kemudian kalikan 1 x 5 = 5
Kita peroleh 165. (Selesai).
Caranya mudah!
Bagi anak SMP sudah mengenal bahwa
(x+2)(x+3)=
x.x + (2x+3x) + 2.3 =
Mirip dengan itu caranya:
306 x 303 =
9 (dari 3×3)
27 (dari 6×3 + 3×3)
18 (dari 6×3)
Kita peroleh jawaban 92718.
Contoh lain
207 x 304 = …
6 (dari 2×3)
29 (dari 7×3 + 2×4)
28 (dari 7×4)
Kita peroleh 62928.

Rumus Bangun Ruang - Matematika


Sat, 22/04/2006 - 1:56pm — godam64
Rumus Kubus
- Volume : Sisi pertama dikali sisi kedua dikali sisi ketiga (S pangkat 3)
Rumus Balok
- Volume : Panjang dikali lebar dikali tinggi (p x l x t)
Rumus Bola
- Volume : phi dikali jari-jari dikali tinggi pangkat tiga kali 4/3 (4/3 x phi x r x t x t x t)
- Luas : phi dikali jari-jari kuadrat dikali empat (4 x phi x r x r)
Rumus Limas Segi Empat
- Volume : Panjang dikali lebar dikali tinggi dibagi tiga (p x l x t x 1/3)
- Luas : ((p + l) t) + (p x l)
Rumus Tabung
- Volume : phi dikali jari-jari dikali jari-jari dikali tinggi (phi x r2 x t)
- Luas : (phi x r x 2) x (t x r)
Rumus Kerucut
- Volume : phi dikali jari-jari dikali jari-jari dikali tinggi dibagi tiga (phi x r2 x t x 1/3)
- Luas : (phi x r) x (S x r)
- S : Sisi miring kerucut dari alas ke puncak (bukan tingi)
Rumus Prisma Segitiga Siku-siku
- Volume : alas segitiga kali tinggi segitiga kali tinggi prisma bagi dua (as x ts x tp x

Rumus Bangun Datar - Matematika

Rumus Bujur Sangkar
Bujur sangkar adalah bangun datar yang memiliki empat buah sisi sama panjang
- Keliling : Panjang salah satu sisi dikali 4 (4S) (AB + BC + CD + DA)
- Luas : Sisi dikali sisi (S x S)
Rumus Persegi Panjang
Persegi panjang adalah bangun datar mirip bujur sangkar namun dua sisi yang berhadapan lebih pendek atau lebih panjang dari
dua sisi yang lain. Dua sisi yang panjang disebut panjang, sedangkan yang pendek disebut lebar.
- Keliling : Panjang tambah lebar kali 2 ((p+l)x2) (AB + BC + CD + DA)
- Luas : Panjang dikali lebar (pl)
Rumus Segitiga
- Keliling : Sisi pertama + sisi kedua + sisi ketiga (AB + BC + CA)
- Luas : Panjang alas dikali pangjang tinggi dibagi dua (a x t / 2)
Rumus Lingkaran
- Keliling : diameter dikali phi (d x phi) atau phi dikali 2 jari-jari (phi x (r + r)
- Luas : phi dikali jari-jari dikali jari-jari (phi x r x r)
- phi = 22/7 = 3,14
Rumus Jajar Genjang atau Jajaran Genjang
- Keliling : Penjumlahan dari keempat sisi yang ada (AB + BC + CD + DA)
- Luas : alas dikali tinggi (a x t)
Rumus Belah Ketupat
- Keliling : Penjumlahan dari keempat sisi yang ada (AB + BC + CD + DA)
- Luas : alas dikali panjang diagonal dibagi 2 (a x diagonal / 2)
- Diagonal : Garis tengah dua sisi berlawanan
Rumus Trapesium
- Keliling : Penjumlahan dari keempat sisi yang ada (AB + BC + CD + DA)
- Luas : Jumlah sisi sejajar dikali tinggi dibagi 2 ((AB + CD) / 2)

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Riska Wiradarma